Yep, kereta Prambanan Ekspress atau yang dikenal dengan Kereta Prameks ini memang cukup spesial. Pasalnya dengan harganya yang hanya 8000 rupiah susah sekali saya bisa naik kereta tersebut. Gara-gara diberlakukannya sistem booking 7 hari sebelum keberangkatan, untuk bisa dapet tiket di hari-H jadi sangat susah.

Nah, beruntungnya hari itu saya bisa dapet tiketnya. Walau saya harus menunggu 3 jam lamanya, saya memang harus setia menunggu kereta ini. Nah, satu jam sebelum keberangkatan saya bisa masuk ke peron stasiun. 1 jam yang tersisa saya mencoba untuk mampir ke musholla. Jreng... Disini saya bertemu dengan seorang syaikh.
Jujur saya lupa siapa nama beliau. Saya pun juga lupa tidak menanyakan dari mana asal beliau. Yang jelas adalah bahwa beliau merupakan pengajar di Pondok Isykarima Karanganyar. Beliau ingin ke Malaysia katanya. Nah, kebetulan sekali saya menaiki kereta yang sama dengan beliau, Prambanan Ekspress. Yap, di titik ini saya merasa menjadi guidegadungan karena sepertinya beliau juga masih belum tau tentang Prambanan Ekspress ini yang akan mengantarkan beliau ke bandara Adi Sucipto.
Ada satu percakapan yang menarik yang saya ingat adalah ketika beliau menanyakan umur saya. Awalnya saya salah menjawab karena salah ngomong dengan menyebut 27 tahun. Akan tetapi setelah itu saya rasa saya sudah membenarkannya menjadi 17 tahun (walau sebenarnya saya waktu itu berumur 18 th,baru inget sekarang saya XD) tapi agak samar. Akan tetapi yang lebih menguatkan adalah sepanjang percakapan saya dengan beliau saya selalu berkata bahwa saya baru lulus sma. Nah, setelah menanyakan hal itu pertanyaan selanjutnya adalah "hal tazawwajta?" saya pun kaget. Di Indonesia sangat tidak lazim orang 17 tahun sudah menikah dan juga sangat jarang pemuda 17 tahun yang sudah memiliki orientasi menikah. Bagi saya pertanyaan ini hampir mutlak untuk di Indonesia. Saya pun berfikir apakah di negri asalnya para pemudanya sudah menikah di umur segitu?
Di sepanjang perjalanan beliau lebih sering membaca alquran dan melihat pemandangan sekitar. Sekali beliau memastikan tiketnya dan menanyakan stasiun mana beliau berhenti. Beliau ternyata tidak suka duduk di kursi yang membelakangi arah jalan kereta. Pada awalnya saya mengajak beliau duduk di kursi yang membelakangi arah jalan kereta. Namun saat kereta berjalan beliau pindah.
Sungguh pengalaman luar biasa bagi saya bertemu dan bercakap langsung dengan beliau. Itu pengalaman pertama saya bercakap dengan bahasa arab tanpa ada teman di sekitar saya yang membantu saya. Walaupun saya sering berucap 'afwan tapi Alhamdulillah percakapan dapat berlangsung dan masih nyambung. XD
Alhamdulillah
Yup, pengalaman itu memang cukup menarik bagi saya. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan pertemuan tersebut. Antara tidak sempat dan tidak kepikiran saya.
Mungkin kali ini cukup sekian saja, sebenernya pada hari yang sama dengan kejadian ini pengalaman menarik saya masih banyak. Itu kenapa saya menuliskan part 1 para artikel ini. Tapi biar Post ini gak terlalu panjang saya cukupkan dulu, insya allah akan saya lanjut di kesempatan mendatang.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya.
Warn
Post ini adalah post bertipe pengalaman, jadi jangan terlalu dibaca serius ^ ^
Nah, beruntungnya hari itu saya bisa dapet tiketnya. Walau saya harus menunggu 3 jam lamanya, saya memang harus setia menunggu kereta ini. Nah, satu jam sebelum keberangkatan saya bisa masuk ke peron stasiun. 1 jam yang tersisa saya mencoba untuk mampir ke musholla. Jreng... Disini saya bertemu dengan seorang syaikh.
Jujur saya lupa siapa nama beliau. Saya pun juga lupa tidak menanyakan dari mana asal beliau. Yang jelas adalah bahwa beliau merupakan pengajar di Pondok Isykarima Karanganyar. Beliau ingin ke Malaysia katanya. Nah, kebetulan sekali saya menaiki kereta yang sama dengan beliau, Prambanan Ekspress. Yap, di titik ini saya merasa menjadi guide
Ada satu percakapan yang menarik yang saya ingat adalah ketika beliau menanyakan umur saya. Awalnya saya salah menjawab karena salah ngomong dengan menyebut 27 tahun. Akan tetapi setelah itu saya rasa saya sudah membenarkannya menjadi 17 tahun (walau sebenarnya saya waktu itu berumur 18 th,
Di sepanjang perjalanan beliau lebih sering membaca alquran dan melihat pemandangan sekitar. Sekali beliau memastikan tiketnya dan menanyakan stasiun mana beliau berhenti. Beliau ternyata tidak suka duduk di kursi yang membelakangi arah jalan kereta. Pada awalnya saya mengajak beliau duduk di kursi yang membelakangi arah jalan kereta. Namun saat kereta berjalan beliau pindah.
Sungguh pengalaman luar biasa bagi saya bertemu dan bercakap langsung dengan beliau. Itu pengalaman pertama saya bercakap dengan bahasa arab tanpa ada teman di sekitar saya yang membantu saya. Walaupun saya sering berucap 'afwan tapi Alhamdulillah percakapan dapat berlangsung dan masih nyambung. XD
Alhamdulillah
Yup, pengalaman itu memang cukup menarik bagi saya. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan pertemuan tersebut. Antara tidak sempat dan tidak kepikiran saya.
Mungkin kali ini cukup sekian saja, sebenernya pada hari yang sama dengan kejadian ini pengalaman menarik saya masih banyak. Itu kenapa saya menuliskan part 1 para artikel ini. Tapi biar Post ini gak terlalu panjang saya cukupkan dulu, insya allah akan saya lanjut di kesempatan mendatang.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya.
Warn
Post ini adalah post bertipe pengalaman, jadi jangan terlalu dibaca serius ^ ^
Komentar
Posting Komentar