Assalamualaikum sobat...
Beberapa waktu lalu saya sempat dapet nasihat dari grup WhatsApp. Judulnya fantastis sekali. Densitas waktu katanya. Istilah yang sepertinya baru pertama kali saya dengar. Jokes nya sih katanya yang nulis pasti anak dari jurusan MIPA. Tapi terlepas dari itu judulnya emang keren sih...
Densitas secara lebih sederhana memiliki makna kerapatan. Kalau temen-temen pernah belajar kimia pasti tahu yang namanya tabel periodik. Di baris ke-3 kolom ke-13, temen-temen pasti bakal nemuin atom no 13. Yup, namanya aluminium. Alumunium ini memiliki massa jenis 2700 kilogram tiap meter kubiknya. Artinya ketika temen-temen memiliki kubus aluminium berukuran 1 m x 1 m x 1 m, massanya pasti ada di kisaran 2700 kilogram. Berbeda dengan atom yang ke-79. Kalau dalam tabel periodik pasti temen-temen bakal ketemu tulisan Au. Yoi, aurum atau kita lebih familiar dengan sebutan emas. Dalam ukuran yang sama dengan Alumunium tadi, ia akan memiliki massa 19300 kilogram.
Hidup kita sama-sama memiliki waktu 24 jam. Coba kita renungkan, mengapa ada orang yang mampu melakukan lebih banyak hal padahal kita semua diberikan waktu yang sama. Bagaimana orang dapat dengan mudahnya menyelesaikan berbagai kewajibannya sementara kita masih tertahan dengan keluh kesahnya.
Semua bergantung dengan densitas waktu. Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk bermalas-malasan sementara orang lain mulai bersiap untuk menyongsong masa depan. Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk sekedar scroll sosial media sementara diluar sana orang sedang berlelah lelah menyelesaikan kewajibannya. Berapa lama kita sia-siakan masa sementara orang diluar sana lebih memilih untuk menghargainya.
Mungkin bukan analogi yang tepat ketika kita membandingkan waktu dengan densitas dari atom-atom penyusun zat. Nyatanya bukan massa jenis yang menjadikan atom lebih mahal dari yang lainnya. Akan tetapi dalam kasus waktu, saya sangat yakin bahwa semakin besar densitas waktu, maka kebermanfaatan atas diri juga akan menjadi semakin besar. Nilai dari keberadaan kita juga akan menjadi semakin bermakna.
Tak perlu untuk berubah secara drastis. Rasanya ketika kita terbiasa mengangkat beban yang ringan dan kemudian tiba-tiba mengangkat beban yang berat, tak mungkin kita akan tahan melakukannya. Mungkin jika masih masa awal kita bisa melakukannya. Tapi lama kelamaan kita akan cepat lelah dan justru menjadi enggan melakukannya.
Mengutip sebuah hadits dari Aisyah ra. :
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.)
Harapannya ketika kita memulai mengisi waktu kita sedikit demi sedikit, itu bisa berubah menjadi kebiasaan kita. Kata penelitian kan kita butuh 21 hari untuk menjadikan apa yang kita lakukan sebagai kebiasaan. Makanya walaupun itu ringan asal istiqamah mengapa tidak dimulai saja. Yuks...
Nah, terakhir semoga hadits dibawah ini juga bisa menjadi tambahan pengingat bagi kita
”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.”
HR. Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir, periwayatnya shohih. Lihat Majma’ Az Zawa’id
Beberapa waktu lalu saya sempat dapet nasihat dari grup WhatsApp. Judulnya fantastis sekali. Densitas waktu katanya. Istilah yang sepertinya baru pertama kali saya dengar. Jokes nya sih katanya yang nulis pasti anak dari jurusan MIPA. Tapi terlepas dari itu judulnya emang keren sih...
Densitas secara lebih sederhana memiliki makna kerapatan. Kalau temen-temen pernah belajar kimia pasti tahu yang namanya tabel periodik. Di baris ke-3 kolom ke-13, temen-temen pasti bakal nemuin atom no 13. Yup, namanya aluminium. Alumunium ini memiliki massa jenis 2700 kilogram tiap meter kubiknya. Artinya ketika temen-temen memiliki kubus aluminium berukuran 1 m x 1 m x 1 m, massanya pasti ada di kisaran 2700 kilogram. Berbeda dengan atom yang ke-79. Kalau dalam tabel periodik pasti temen-temen bakal ketemu tulisan Au. Yoi, aurum atau kita lebih familiar dengan sebutan emas. Dalam ukuran yang sama dengan Alumunium tadi, ia akan memiliki massa 19300 kilogram.
Walaupun ukurannya sama, keduanya punya nilai yang berbeda
Hidup kita sama-sama memiliki waktu 24 jam. Coba kita renungkan, mengapa ada orang yang mampu melakukan lebih banyak hal padahal kita semua diberikan waktu yang sama. Bagaimana orang dapat dengan mudahnya menyelesaikan berbagai kewajibannya sementara kita masih tertahan dengan keluh kesahnya.
Semua bergantung dengan densitas waktu. Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk bermalas-malasan sementara orang lain mulai bersiap untuk menyongsong masa depan. Berapa lama waktu yang kita gunakan untuk sekedar scroll sosial media sementara diluar sana orang sedang berlelah lelah menyelesaikan kewajibannya. Berapa lama kita sia-siakan masa sementara orang diluar sana lebih memilih untuk menghargainya.
Mungkin bukan analogi yang tepat ketika kita membandingkan waktu dengan densitas dari atom-atom penyusun zat. Nyatanya bukan massa jenis yang menjadikan atom lebih mahal dari yang lainnya. Akan tetapi dalam kasus waktu, saya sangat yakin bahwa semakin besar densitas waktu, maka kebermanfaatan atas diri juga akan menjadi semakin besar. Nilai dari keberadaan kita juga akan menjadi semakin bermakna.
Tak perlu untuk berubah secara drastis. Rasanya ketika kita terbiasa mengangkat beban yang ringan dan kemudian tiba-tiba mengangkat beban yang berat, tak mungkin kita akan tahan melakukannya. Mungkin jika masih masa awal kita bisa melakukannya. Tapi lama kelamaan kita akan cepat lelah dan justru menjadi enggan melakukannya.
Mengutip sebuah hadits dari Aisyah ra. :
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.)
Harapannya ketika kita memulai mengisi waktu kita sedikit demi sedikit, itu bisa berubah menjadi kebiasaan kita. Kata penelitian kan kita butuh 21 hari untuk menjadikan apa yang kita lakukan sebagai kebiasaan. Makanya walaupun itu ringan asal istiqamah mengapa tidak dimulai saja. Yuks...
Nah, terakhir semoga hadits dibawah ini juga bisa menjadi tambahan pengingat bagi kita
”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.”
HR. Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir, periwayatnya shohih. Lihat Majma’ Az Zawa’id
Semoga waktu kita semakin bermanfaat kedepannya...
Eh btw sehari itu nggak pas 24 jam juga sih, coba cek deh di https://www.timeanddate.com/time/earth-rotation.html haha...
Wassalamualaikum sobat...

Komentar
Posting Komentar